Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Asal-Usul Tahlilan dalam Islam


Pendapat bahwa tradisi tahlilan berasal dari ajaran Hindu, khususnya Pinda Pitri Yajna, adalah klaim yang sering muncul dalam diskusi sejarah Islam di Nusantara. Namun, hal ini perlu ditelaah lebih dalam dengan mempertimbangkan sumber sejarah dan perspektif ulama.

Asal-Usul Tahlilan dalam Islam

Tahlilan adalah tradisi membaca dzikir, tahlil (La ilaha illallah), doa, dan surat-surat Al-Qur’an yang dilakukan secara berjamaah, biasanya dalam rangka mendoakan orang yang telah meninggal dunia. Praktik ini banyak dijumpai di Indonesia, khususnya di kalangan Nahdlatul Ulama (NU).

Dasar dari tahlilan dalam Islam berasal dari ajaran Rasulullah ﷺ yang menganjurkan umatnya untuk berdoa bagi orang yang telah meninggal. Dalilnya antara lain:

  1. QS. Al-Hasyr: 10
    "Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: ‘Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami...'"

  2. Hadis Nabi ﷺ
    Rasulullah ﷺ bersabda:
    "Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya." (HR. Muslim)

Praktik berkumpul untuk membaca Al-Qur’an, berdoa bersama, dan bersedekah atas nama orang yang telah meninggal bukanlah sesuatu yang asing dalam Islam.

Apakah Ada Pengaruh Hindu dalam Tahlilan?

Istilah Pinda Pitri Yajna dalam Hindu merujuk pada ritual persembahan makanan dan doa untuk arwah leluhur. Beberapa pihak mengaitkan hal ini dengan tahlilan karena sama-sama dilakukan setelah seseorang meninggal dunia. Namun, ada beberapa perbedaan mendasar:

  1. Dalam Hindu, Pinda Pitri Yajna bertujuan untuk membantu roh mencapai dunia arwah yang lebih tinggi dengan menggunakan persembahan makanan dan ritual tertentu.
  2. Dalam Islam, tahlilan bertujuan untuk mendoakan rahmat dan ampunan bagi almarhum, bukan untuk mengubah status roh di alam kubur.
  3. Tahlilan berisi dzikir, tahlil, dan doa-doa yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis, bukan dari ajaran Hindu.

Karena itu, meskipun ada kemungkinan tradisi keagamaan di Nusantara mengalami akulturasi dengan budaya sebelumnya, tahlilan dalam Islam tetap memiliki dasar yang kuat dari ajaran Islam itu sendiri.

Kesimpulan

Tradisi tahlilan yang berkembang di Indonesia tidak bisa disamakan dengan Pinda Pitri Yajna. Meskipun ada kesamaan dalam aspek sosial (berkumpul dan mendoakan orang yang telah meninggal), substansi ajarannya sangat berbeda. Dalam Islam, mendoakan orang yang telah meninggal adalah amalan yang dianjurkan, dan tahlilan menjadi salah satu bentuk implementasi dari nilai-nilai tersebut.

Bagaimana pendapat Anda? Apakah ada aspek lain yang ingin Anda diskusikan mengenai tradisi ini? 😊

Dilihat : 25 kali
Kolom Komentar