Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Logat kita dalam Perubahan Zaman

Dulu di Jawa Timur, bahasa Jawa menjadi bagian utama dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Mulai dari suasana kampung, pasar tradisional, sawah, hingga tempat rekreasi, hampir semua percakapan menggunakan bahasa Jawa dengan logat khas daerah masing-masing. Ada logat Surabaya yang ceplas-ceplos dan akrab, logat Mataraman yang lebih halus, hingga logat Madura campuran Jawa di daerah pesisir. Semua memiliki ciri khas yang membuat suasana terasa dekat dan penuh kekeluargaan.

Saat orang tua mengajak anak-anak kecil berjalan ke taman, kebun binatang, atau sekadar bermain di halaman rumah, bahasa Jawa selalu terdengar dalam percakapan. Kalimat sederhana seperti, “Ayo le, ojo mlayu-mlayu,” atau “Nduk, wis mangan durung?” menjadi hal biasa. Dari kecil anak-anak belajar bahasa Jawa langsung dari keluarga dan lingkungan sekitar.

Bukan hanya bahasa, tetapi juga tata krama dan sopan santun diajarkan lewat cara berbicara. Orang Jawa Timur zaman dulu sangat menjaga unggah-ungguh atau adab. Anak kecil diajarkan menghormati orang tua menggunakan bahasa yang lebih halus. Kepada teman memakai bahasa santai, tetapi kepada kakek, nenek, guru, atau tetangga yang lebih tua harus menggunakan bahasa yang sopan.

Di desa-desa Jawa Timur, suasana malam dulu terasa hangat. Orang-orang duduk di teras rumah sambil mengobrol menggunakan bahasa Jawa penuh logat khas daerahnya. Anak-anak bermain sambil mendengar percakapan orang dewasa, sehingga tanpa sadar mereka ikut belajar bahasa Jawa setiap hari.

Namun sekarang zaman sudah berubah. Perkembangan teknologi, televisi, media sosial, dan pergaulan modern membuat penggunaan bahasa sehari-hari mulai bercampur antara bahasa Indonesia dan Jawa.

Banyak orang berbicara dengan gaya campuran, misalnya:

“Aku tadi habis sekolah terus langsung dolan nang omahe kancaku.”

Campuran seperti itu sekarang sangat sering terdengar di berbagai tempat di Jawa Timur. Mulai dari anak muda, orang dewasa, bahkan sebagian orang tua juga terbiasa menggunakan bahasa campuran.

Di pusat perbelanjaan, sekolah, tempat wisata, hingga lingkungan perumahan, bahasa Indonesia semakin dominan digunakan.

Perubahan ini membuat banyak orang mulai bertanya-tanya, apakah nanti logat Jawa Timur akan perlahan tergeser?

Kekhawatiran itu memang ada.

Sebab bahasa Jawa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga identitas budaya dan cara menjaga sopan santun. Dalam bahasa Jawa terdapat nilai hormat, tata krama, dan rasa menghargai orang lain. Cara berbicara orang Jawa dulu mencerminkan adab yang dijaga sejak kecil.

Sekarang bahkan ada anak-anak asli Jawa Timur yang kurang bisa berbicara bahasa Jawa dengan lancar. Ada yang hanya mengerti sedikit, ada juga yang lebih nyaman memakai bahasa Indonesia sepenuhnya. Padahal orang tuanya sendiri orang Jawa asli. Hal ini terjadi karena di rumah sudah jarang menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa utama.

Meski begitu, sebenarnya bahasa Jawa masih bisa terus dijaga jika keluarga tetap mengenalkannya kepada anak-anak sejak kecil. Tidak harus selalu menggunakan bahasa Jawa halus, tetapi cukup membiasakan percakapan sederhana sehari-hari. Dengan begitu anak-anak tetap mengenal logat daerahnya sendiri dan tidak kehilangan identitas budaya.

Bahasa Jawa Timur memiliki kekayaan logat dan karakter yang unik. Dari logat Surabaya yang terkenal berani dan akrab, hingga bahasa halus daerah Mataraman yang penuh unggah-ungguh, semuanya merupakan warisan budaya yang berharga.

Zaman boleh berkembang, teknologi boleh semakin maju, tetapi bahasa daerah tetap penting dijaga agar tidak hilang ditelan perubahan.

Karena sejatinya, ketika bahasa daerah mulai hilang, bukan hanya kata-katanya yang memudar, tetapi juga sebagian budaya, sopan santun, dan jati diri masyarakatnya.

PESAN

💬 Komentar | Tanya

Memuat diskusi...