Jangan Mengeluh
“Kenapa Tuhan tidak memberi hidup seperti yang aku inginkan?”
Namun pernahkah kita bertanya pada diri sendiri:
Apakah hidup kita sudah berjalan seperti yang Tuhan inginkan?
Kita ingin hidup dipenuhi kemudahan, tetapi sering melupakan kewajiban. Kita meminta jalan dibukakan, tetapi ibadah justru ditinggalkan. Kita berharap ketenangan, tetapi hati sibuk mengejar dunia tanpa arah. Kadang kita terlalu cepat kecewa kepada Tuhan, padahal kita sendiri masih jauh dari nilai hidup yang Dia kehendaki.
Bukan berarti hidup harus sempurna untuk mendapatkan pertolongan Tuhan. Bukan pula Tuhan hanya mencintai mereka yang tanpa salah. Justru manusia adalah tempat salah dan lupa. Namun ada satu hal yang sering menjadi pengingat:
Saat hidup mulai berantakan, mungkin ibadah kita sedang diminta untuk dirapikan.
Musibah tidak selalu hukuman. Kesulitan tidak selalu tanda kebencian Tuhan. Kadang, hidup yang terguncang hadir untuk menyadarkan sesuatu yang selama ini kita abaikan. Ada yang mulai rajin berdoa setelah jatuh. Ada yang mulai dekat dengan Tuhan setelah kehilangan. Ada yang baru memahami makna berserah ketika semua kekuatan manusiawinya habis.
Ironisnya, saat senang kita sering lupa, tapi saat susah kita baru mencari arah.
Padahal hubungan dengan Tuhan bukan hanya dibangun ketika badai datang. Ibadah bukan alat darurat yang dipakai saat masalah menumpuk. Ia adalah kompas agar kita tidak tersesat, bahkan sebelum badai datang.
Dalam hidup ini, tugas manusia sebenarnya sederhana:
Tadah tangan, berusaha, dan berdoa. Selebihnya, biarkan Tuhan yang turun tangan.
Tidak semua yang kita minta akan datang sesuai waktu yang kita mau. Tidak semua doa dijawab dengan cara yang kita suka. Kadang Tuhan memberi apa yang kita perlukan, bukan apa yang kita inginkan. Kadang jawaban terbaik datang dalam bentuk penundaan, kehilangan, atau arah baru yang awalnya terasa menyakitkan.
Kita mudah menerima bahwa Tuhan mendengar doa dengan cara kita. Kita menangis, memohon, berharap, bahkan kadang marah dalam doa. Tuhan menerima semuanya.
Namun anehnya, kita sering sulit menerima jawaban Tuhan dengan cara-Nya.
Ketika jawaban itu tidak sesuai harapan, kita kecewa. Ketika pintu yang diinginkan tertutup, kita merasa diabaikan. Padahal bisa jadi Tuhan sedang menyelamatkan kita dari sesuatu yang belum kita pahami.
Mungkin bukan Tuhan yang terlalu lama menjawab. Bisa jadi kita yang terlalu terburu-buru menentukan bagaimana jawaban itu harus datang.
Karena pada akhirnya, iman bukan hanya tentang percaya bahwa Tuhan mendengar doa.
Tetapi juga percaya bahwa Tuhan lebih tahu jawaban terbaik, bahkan ketika hati kita belum mampu memahaminya.
Jadi, sebelum mengeluh hidup tak sesuai keinginan, cobalah bertanya:
Sudahkah hidup ini kita jalani seperti yang Tuhan inginkan?
Sebab terkadang, hidup yang terasa berantakan bukan akhir dari segalanya melainkan cara Tuhan mengetuk hati agar kita kembali pulang.
