Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dua Dunia Mbah Riyan yang Mengguncang Peradaban


Di sebuah kampung sederhana di Kudus, Jawa Tengah, hiruk-pikuk pembangunan rumah kerap terdengar. Di antara debu pasir dan deru mesin, seorang lelaki tua dengan tubuh kekar dan kulit sawo matang tampak asyik memasang bata. Ia adalah Mbah Riyan, tukang bangunan yang akrab dengan keringat dan kapur sirih. Namun, siapa sangka, di balik celana kerja yang lusuh, tersimpan pengetahuan yang membuat para ulama dunia menunduk hormat. Dialah Ibnu Harjo, sang “Muhaqqiq” (pakar penelitian kitab klasik) yang namanya harum di kancah internasional.

Dari Cangkul ke Pena: Dua Dunia dalam Satu Jiwa

Bagi warga kampung, Mbah Riyan adalah sosok yang hangat dan bersahaja. Setiap pagi ia berangkat ke proyek bangunan, dan di sore hari, ia duduk di tepi sungai dengan pancing di tangan. Tidak ada yang istimewa dari penampilannya. Ia tidak memakai sorban atau jubah putih yang melambai. Ia lebih sering memakai kaos oblong lusuh dan peci hitam yang sudah kusam.

Namun, setiap malam, ketika lampu minyak di rumah kecilnya menyala, Mbah Riyan berubah. Tangannya yang keras karena kapur dan semen, dengan lembut membalikkan manuskrip-manuskrip kuno berbahasa Arab dan Melayu Jawi. Di atas meja kayu sederhana, ia menulis, mengoreksi, dan memberi catatan kritis (ta’liq) terhadap kitab-kitab klasik yang usianya ratusan tahun.

Julukan Ibnu Harjo mungkin asing di telinga tetangganya. Mereka lebih mengenalnya sebagai "Pak Riyan tukang batu". Namun, di perpustakaan-perpustakaan pesantren besar di Timur Tengah dan Malaysia, nama Ibnu Harjo adalah rujukan utama. Beliau adalah seorang muhaqqiq seorang ilmuwan yang tidak sekadar membaca, tetapi juga melakukan verifikasi dan analisis mendalam terhadap isi kitab kuning.

Membangun Rumah dan Peradaban

Ada ironi manis dalam kehidupan Mbah Riyan.

  • Siang hari, ia membangun rumah-rumah warga dari bata dan semen. Tembok-tembok kokoh berdiri di bawah sentuhan tangannya.

  • Malam hari, ia membangun peradaban ilmu dengan tinta dan kertas. Ia merawat pemikiran ulama-ulama besar agar tidak punah ditelan zaman.

Sebagai seorang muhaqqiq, Mbah Riyan tidak menulis sembarangan. Karyanya adalah hasil penelitian ketat yang bisa menjadi pegangan bagi para kiai dan dosen universitas Islam.

Salah satu kitab karyanya yang paling dikenal adalah "Al-Istihsan, Haqiqotuhu wa Hujjiyyatuhu" (tentang metode Istihsan dalam hukum Islam). Namun, di luar itu, ia juga menghasilkan puluhan catatan ilmiah (ta’liqat) yang membedah kitab-kitab besar karangan ulama ternama. Beberapa di antaranya adalah:

  • "Dilalah Qorinah Al-Muwadlobah ‘Inda Al-Ushuliyyin" – sebuah studi mendalam tentang indikasi kata dalam Ushul Fiqh.

  • "Rodd Al-Hadits Al-Dlo’if bi Al-Kulliyyah" – tentang kritik terhadap hadits lemah di era modern, yang berani namun berbasis ilmu.

  • Catatan (Ta’liq) atas kitab "Is’af Al-Mutholi’" karya Syaikh Mahfudz Al-Tarmasy, yang mencakup bab Ijtihad, Taqlid, Aqidah, hingga Tasawuf.

  • Dan masih banyak lagi.

Karya-karya ini bukanlah bacaan ringan. Ini adalah lautan ilmu yang hanya bisa ditaklukkan oleh mereka yang benar-benar ahli. Bayangkan, di sela-sela istirahat memancing, Mbah Riyan justru "memancing" makna-makna tersembunyi dari teks-teks klasik yang rumit!

Kemasyhuran yang Tidak Dicari

Mengapa Mbah Riyan memilih hidup sederhana dan “menyembunyikan” keilmuannya? Jawabannya sederhana: keikhlasan.

Bagi Mbah Riyan, ilmu adalah amanah, bukan ajang pamer. Ia tidak pernah meminta wartawan untuk meliputnya. Ia tidak mencari gelar profesor atau doktor. Ia menulis karena cinta pada ilmu dan ingin menjaga warisan para ulama pendahulu.

“Ilmu itu untuk diamalkan dan diwariskan, bukan untuk membuat kita sombong,” begitu pesan yang selalu tersirat dalam setiap goresan tintanya.

Di mata warga, ia mungkin hanya tukang bangunan. Namun, di mata para ilmuwan di Malaysia, Mesir, dan Makkah, ia adalah mata air pengetahuan. Para kiai besar sering mengirim surat untuk berdiskusi dengannya, dan para santri dari jauh datang sowan (silaturahmi) ke rumahnya yang sederhana untuk meminta ijazah (izin meriwayatkan) kitab.

Sebuah Renungan: Harta Sejati adalah Ilmu

Kisah Mbah Riyan adalah tamparan halus bagi kita semua.

Di zaman yang serba instan ini, banyak orang berusaha keras agar terlihat pintar dan terkenal. Media sosial dipenuhi oleh orang yang memamerkan gelar, jabatan, atau kekayaan. Namun, Mbah Riyan mengajarkan bahwa kemuliaan sejati tidak identik dengan kemasyhuran di media.

Bagaimana mungkin seorang tukang bangunan bisa menghasilkan 12 jilid kitab dan lebih dari 100 naskah ilmiah? Jawabannya adalah manajemen waktu dan hati yang bersih. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca dan merenung, bukan untuk hal yang sia-sia. Kesibukan tangannya membangun rumah justru menjadi “meditasi” yang menjernihkan pikirannya untuk menulis.

Singgasana Ilmu yang Tak Terlihat

Kisah ini mengajarkan kita untuk tidak menilai buku dari sampulnya. Di sebuah kampung di Kudus, hiduplah seorang pahlawan tanpa tanda jasa. Sore hari ia melempar kail ke sungai, menunggu ikan menyambar. Namun, malam harinya, ia melempar pikirannya ke lautan ilmu, dan hasilnya adalah karya-karya yang akan terus dibaca sampai ratusan tahun ke depan.

Semoga kita semua terinspirasi oleh Mbah Riyan, tukang bangunan yang menjadi “Arsitek Peradaban”. Bahwa tidak ada pekerjaan yang rendah di hadapan Allah, dan tidak ada kata terlambat untuk belajar. Kuncinya adalah niat yang ikhlas, waktu yang produktif, dan keberanian untuk terus menulis dan berkarya.

Selamat beristirahat di tepi sungai, Mbah Riyan. Namamu mungkin tak tercetak di koran-koran utama, tetapi namamu terukir dengan tinta emas di lembaran sejarah ilmu Islam.

💬 Kolom Komentar

💬 Komentar | Tanya

Memuat komentar...