Kisah Pasukan Perempuan PPRI Surabaya yang Terlupakan
Perempuan di Garis Depan: Menolak Lupa Kisah Lukitaningsih dan Pasukan Bersendata PPRI dalam Pertempuran Surabaya 10 November
Ketika kita memperingati Hari Pahlawan setiap tanggal 10 November, narasi yang muncul di kepala kita hampir selalu seragam: pekikan takbir Bung Tomo di radio, keberanian Gubernur Suryo, dan barisan pemuda (arek-arek Suroboyo) yang berlari membawa bambu runcing serta senapan rampasan.
Namun, ada satu kepingan sejarah yang sengaja atau tidak, perlahan kabur dan terhapus dari ingatan publik. Di balik kepulan asap bom Sekutu yang menghancurkan Surabaya pada November 1945, ada barisan perempuan muda yang tidak hanya berdiri di dapur umum atau merawat luka, melainkan ikut masuk ke parit pertempuran, memegang senjata, dan menembaki tentara Inggris serta NICA (Belanda).
Mereka dipimpin oleh seorang perempuan visioner dan pemberani bernama Lukitaningsih, melalui sebuah organisasi bernama Pemuda Putri Republik Indonesia (PPRI). Mengapa kisah mereka hampir hilang dari buku pelajaran sejarah kita? Mari kita bongkar arsipnya.
Siapa Lukitaningsih? Sang Katalisator Gerakan Perempuan Bersenjata
Sebelum meletusnya pertempuran berdarah di Surabaya, sejarah mencatat bahwa keterlibatan perempuan dalam pergerakan nasional sering kali dibatasi pada ranah domestik, sosial, atau pendidikan. Namun, Lukitaningsih menolak batasan tersebut.
Bagi Lukitaningsih, kemerdekaan Indonesia yang baru seumur jagung (Agustus 1945) sedang berada dalam ancaman fatal dengan kedatangan tentara Sekutu yang ditumpangi NICA. Melalui orasinya dan tulisan-tulisannya yang tajam di surat kabar lokal bernama Soerakjat pada Oktober 1945, ia menyerukan pesan yang radikal bagi zamannya:
"Perempuan tidak boleh hanya menjadi penonton ketika tanah airnya hendak dijajah kembali. Jika pria bisa memegang senapan, perempuan juga bisa!"
Seruan ini menyebar seperti api di antara para gadis muda di Surabaya—mulai dari pelajar, buruh pabrik, hingga anak-anak kampung. Mereka berkumpul dan membentuk Pemuda Putri Republik Indonesia (PPRI), dengan Lukitaningsih sebagai ketuanya.
Bukan Sekadar Dapur Umum: PPRI sebagai Unit Militer Wanita
Banyak buku sejarah modern mereduksi peran perempuan dalam Pertempuran Surabaya hanya sebagai pengurus logistik makanan atau perawat Palang Merah. Catatan sejarah yang lebih jujur mengungkap bahwa PPRI memiliki sayap militer dan paramiliter bersenjata.
Berikut adalah peran brutal dan luar biasa dari PPRI di bawah komando Lukitaningsih selama pertempuran Surabaya:
1. Pelatihan Militer Khusus Perempuan
Di bawah koordinasi Lukitaningsih, anggota PPRI tidak hanya diajarkan cara membalut luka, tetapi juga dilatih secara fisik. Mereka belajar taktik merangkak di tanah, menggunakan sangkur, melempar granat, hingga membongkar-pasang senapan api hasil rampasan dari tentara Jepang.
2. Memegang Senjata di Parit Pertempuran
Ketika Inggris membombardir Surabaya dari laut dan udara pada tanggal 10 November, kota berubah menjadi neraka. Di beberapa titik pertahanan kritis di Surabaya, anggota PPRI ikut turun ke parit-parit pertahanan bersama milisi pemuda. Mengenakan celana pendek atau kain yang diikat ringkas, dengan rambut dikuncir, mereka melepaskan tembakan ke arah infanteri musuh.
3. Jaringan Spionase (Intelijen) Garis Depan
Karena tentara Sekutu sering kali meremehkan perempuan, Lukitaningsih memanfaatkan celah ini. Anggota PPRI menyusup ke wilayah yang dikuasai musuh dengan menyamar sebagai pengungsi atau pedagang. Mereka mengumpulkan informasi mengenai posisi meriam, jumlah pasukan Inggris, lalu menyelundupkan informasi tersebut kembali ke markas pejuang Indonesia.
Mengapa Kisah PPRI "Dikaburkan" Setelah Perang?
Ada alasan politis dan sosial mengapa nama Lukitaningsih dan PPRI seolah menguap dari sejarah resmi Indonesia pasca-kemerdekaan:
Domestifikasi Peran Perempuan: Setelah perang kemerdekaan selesai, ada upaya sistematis dari pemerintah (terutama menguat pada era Orde Baru) untuk mengembalikan perempuan ke "kodrat tradisional" mereka di ranah domestik. Citra perempuan yang memegang senapan dianggap terlalu agresif dan tidak sesuai dengan konsep "wanita ideal" yang tenang, patuh, dan mengurus rumah tangga.
Sejarah yang Ego-Sentris Pria: Penulisan sejarah militer Indonesia telanjur didominasi oleh sudut pandang maskulin, di mana kepahlawanan diukur dari pangkat militer resmi dan dominasi figur pria.
Mengembalikan Kehormatan Arek-Arek Suroboyo Putri
Pertempuran Surabaya adalah perang total. Kota itu dipertahankan oleh seluruh elemen rakyat tanpa memandang gender. Lukitaningsih dan barisan perempuan PPRI telah membuktikan bahwa keberanian tidak mengenal jenis kelamin. Mereka melintasi batas-batas sosial demi mempertahankan merah putih.
Sudah saatnya kita, sebagai generasi penerus, menghidupkan kembali nama Lukitaningsih dan PPRI di ruang-ruang diskusi, blog, dan media sosial. Menuliskan kisah mereka bukan hanya tentang menambah daftar pahlawan, melainkan tentang meluruskan sejarah bahwa kemerdekaan Indonesia juga direbut oleh jemari perempuan yang melepaskan pelatuk senapan.